Garut // Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi kegiatan pembinaan kemandirian warga binaan. Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui kegiatan panen jagung yang berhasil menghasilkan sebanyak 208 buah jagung dengan estimasi berat keseluruhan mencapai 80 kilogram.
Kegiatan panen tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Asep Supriatna, didampingi Kepala Subseksi Sarana Kerja, Yuhana Rahayu, serta Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengolahan Hasil Kerja, Egis Fantasi. Sebanyak dua orang warga binaan turut terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari pelaksanaan program pembinaan kemandirian di bidang pertanian.
Panen jagung ini menjadi salah satu wujud nyata pemanfaatan lahan produktif di lingkungan Lapas Garut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga diarahkan pada pengembangan keterampilan dan kemampuan produktif warga binaan.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Garut, Asep Supriatna, menyampaikan bahwa kegiatan pertanian merupakan bagian penting dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan praktis yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.*”Panen jagung ini merupakan hasil dari proses pembinaan kemandirian yang kami laksanakan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan pertanian, warga binaan tidak hanya memperoleh pengalaman dan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta pentingnya kerja keras dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi mereka ketika kembali ke tengah masyarakat,”ujar Asep.
Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa keterlibatan warga binaan dalam kegiatan pertanian menjadi salah satu langkah strategis untuk menciptakan lingkungan pembinaan yang produktif, sekaligus mendukung optimalisasi potensi sumber daya yang tersedia di Lapas Garut.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan panen tersebut. Menurutnya, keberhasilan panen jagung merupakan bagian dari komitmen jajaran Lapas Garut dalam mengimplementasikan program pembinaan yang produktif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata.
“Kami terus mendorong agar setiap potensi yang dimiliki Lapas Garut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan kemandirian warga binaan.
Hasil panen ini bukan semata-mata dinilai dari jumlah produksinya, melainkan juga dari proses pembelajaran, keterampilan, dan pengalaman kerja yang diperoleh warga binaan selama mengikuti kegiatan pembinaan,”ungkap Rusdedy.
Rusdedy menegaskan bahwa program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan memiliki nilai strategis karena mampu mengintegrasikan kegiatan produktif dengan tujuan pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa masa pembinaan menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk mengembangkan potensi diri. Melalui kegiatan pertanian dan berbagai bidang keterampilan lainnya, kami berharap mereka memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.
Keberhasilan panen sebanyak 208 buah jagung dengan estimasi berat 80 kilogram tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan pertanian dapat dikembangkan sebagai sarana pembinaan yang memberikan manfaat sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan.
Melalui sinergi antara petugas dan warga binaan, Lapas Garut berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian yang inovatif, produktif, dan berkesinambungan.
Dari lahan pembinaan, Lapas Garut tidak hanya memanen hasil pertanian, tetapi juga menumbuhkan keterampilan, kemandirian, dan harapan baru bagi warga binaan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
(Rika)
